1914201048_PUTRI KAMILA MUFIDAH_UJIAN PRAKTIK SIK

PENCEGAHA HIPERTENSI PADA LANSIA

UJIAN PRAKTIK

 

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Keperawatan


 

Oleh :

Putri Kamila Mufidah                         (1914201048)

 

 

 

 

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWTAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

2021


 

PENCEGAHAN HIPERTENSI PADA LANSIA

P : populasi/problem

Lansia

I : intervensi

Pencegahan intervensi pada lansia dengan edukasi dan penyuluhan

C : comparator/control

Tanpa edukasi dan dengan edukasi

O : outcome

Mengurangi penyakit hipertensi pada lansia

 

Pertanyaan :

Apakah dengan mengedukasi para lansia akan mengurangi penyakit hipertensi yang biasa terjadi pada lansia?


 

LATAR BELAKANG

Hipertensi adalah faktor risiko ketiga terbesar yang menyebabkan kematian dini, terjadinya gagal jantung sertapenyakit gangguan otak. Penyakit ini dipengaruhi oleh cara dan kebiasaan hidup seseorang, sering disebut sebagai the killer disease karena merupakan penyakitpembunuh, dimana penderita tidak mengetahui kalau dirinya mengidap hipertensi, sehingga penderita datang berobat setelah timbul kelainan organ akibat hipertensi. Hipertensi juga dikenal sebagai heterogeneousgroup of disease karena dapat menyerang siapa saja dari berbagai kelompok umur, sosial, dan ekonomi. Kecenderungan berubahnya gaya hidup akibat urbanisasi, modernisasi, dan globalisasi memunculkan sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan angkakesakitan hipertensi.(Lisiswanti and Dananda 2016)

Hipertensi merupakan suatu tantangan kesehatan masyarakat secara global, dimana dapat dapat mengurangi kualitas hidup secara signifikan dan juga merupakan salah satu faktor risiko yang sangat berkaitan erat dengan penyakit kardiovaskuler dan mortalitas atau kematian pada usia muda akibat penyakit hipertensi (Barron et al., 2014). Penyakit hipertensi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Setiap peningkatan 20 mmHg tekanan darah sistolik atau 10 mmHg tekanan darah diastolik dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik dan strok. Terkontrolnya tekanan darah sistolik dapat menurunkan risiko kematian, penyakit kardiovaskular, strok, dan gagal jantung. Menjalankan pola hidup sehat setidaknya selama 4–6 bulan terbukti dapat menurunkan tekanan darah dan secara umum dapat menurunkan risiko permasalahan kardiovaskular. Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan di antaranya penurunan berat badan, mengurangi asupan garam, olahraga, mengurangi konsumsi alkohol, dan berhenti merokok .

Pola penyakit di Indonesia mengalami transisi epidemiologi selama dua decade terakhir, yakni dari penyakit menular yang semula menjadi beban utama kemudian mulai beralih menjadi penyakit tidak menular. Kecenderungan ini meningkat dan mulai mengancam sejak usia muda. Penyakit tidak menular yang utama di antaranya hipertensi, diabetes melitus, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronik . Perubahan pola struktur masyarakat, khususnya masyarakat agraris ke masyarakat industri banyak memberi andil pada perubahan pola fertilitas, gaya hidup, sosial ekonomi yang pada gilirannya dapat memacu meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) (Akbar and Tumiwa 2020)

Faktor risiko hipertensi meliputi faktor genetik yang tidak dapat dikontrol seperti: keturunan, jenis kelamin, dan umur, dan faktor lain yang dapat dikontrol seperti: kegemukan, kurang olah raga, merokok, alkohol, garam dan stres (Setiawan, 2006). Monitoring hipertensi sangat penting untuk deteksi dini guna menghindari terjadinya komplikasi yang dapat berujung pada kecacatan atau keparahan bahkan kematian. Hipertensi yang tinggi dan tidak terkontrol akan menyebabkan berbagai komplikasi artherosclerotic dan komplikasi lainnya. Data menunjukkan bahwa penderita hipertensi yang tidak diterapi 50% akan meninggal karena penyakit jantung koroner dan gagal jantung, 33% karena stroke dan 10– 15% karena gagal ginjal. Secara umum, komplikasi vaskuler hipertensi dapat dibagi menjadi 2, yaitu hypertensive dan left venticel hypertrophy (Sigarlaki, 2000) (Rsup et al. n.d.)

Umur mempengaruhi terjadinya hipertensi. Risiko terkena hipertensi menjadi lebih besar seiring dengan bertambahnya umur,sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40%, dengan kematian sekitar diatas 65 tahun. Pada usia lanjut, hipertensi ditemukan hanya berupakenaikan tekanan darah sistolik. Sedangkan menurut WHO dalam menentukan adatidaknya hipertensi memakai tekanandiastolik sebagai bagian tekanan yang lebih tepat dipakai. Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur akibat perubahan struktur pada pembuluh darah besar, yaitu lumenmenjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku, sebagaiakibat adalah meningkatnya tekanan darah sistolik.6 Tekanan

Tekanan darah cenderung meningkatseiring bertambahnya usia, semakin bertambah usia kemungkinan seseorangmenderita hipertensi juga semakin besar. Pada umumnya penderita hipertensiadalah orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas. Namun saat ini tidak menutupkemungkinan hipertensi diderita oleh orang berusia muda karena faktanya hipertensi bisamenyerang semua kelompok umur, termasuk usia muda di bawah 40-an tahun.

Metode pelaksanaaan kegiatan yang akan dilakukan adalah penyuluhan kesehatan tentang penyakit hipertensi. Langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan adalah : a. Tahap persiapan : (1) Melakukan sosialisasi kegiatan, (2) Menyiapkan materi, media, alat sarana dan prasarana (3) Menyepakati jadual kegiatan bersama penanggung jawan Posyandu (4)Mengidentifikasi media massa yang akan digunakan untuk publikasi. b. Tahap pelaksanaan : (1) Melakukan penyuluhan kesehatan (2) Melakukan pendokumentasian setiap kegiatan melalui foto, dan pencatatan. c. Tahap Evaluasi : (1) Melakukan evaluasi terhadap antusias lansia setelah diberikan penyuluhan (2) Membuat laporan kegiatan (Sesrianty et al. 2020)

Saat ini upaya pencegahan dan perawatan hipertensi di Rumah melalui media pembelajaran bagi Masyarakat. Kementerian kesetahan berupaya meningkatkan promosi kesehatan melalui komunikasi, informasi, dan edukasi. Pemberian informasi dan edukasi pada masyarakat dapat melalui berbagai cara. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah penyampaian informasi dan edukasi kesehatan melalui media pembelajaran yang dapat

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berupaya memberikan informasi mengenai informasi tentang hipertensi dan upaya pencegahan. Diharapkan dengan pelaksanaan pendidikan kesehatan masyarakat mampu menyerap informasi yang diberikan dan meningkatkan kesadaran kepada keluarga dan penderita akan pentingnya menjaga pola hidup agar terhindar dari risiko penyakit stroke, jantung dan gagal ginjal akibat hipertensi yang dimiliki, kemudian menyarankan perubahan perilaku seperti perilaku merokok yang dimiliki penderita yang pada faktanya perilaku tersebut cenderung memperburuk kondisi kesehatan. Adapun pemberian pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan tekanan darah ditujukan untuk meningkatkan kewaspadaan kepada keluarga dan penderita serta memberikan rekomendasi upaya tanggap terhadap kondisi tekanan darah.(Arisandi 2020)

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Hairil, and Finni Fitria Tumiwa. 2020. “Edukasi Upaya Pencegahan Hipertensi Pada Masyarakat Di Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow.” JPKMI (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia) 1(3):154–60.

Arisandi, W. 2020. “Upaya Pengendalian Hipertensi Melalui Pendidikan Dan Pemeriksaan Kesehatan Warga Masyarakat Metro Utara Kota Metro.” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 1(2).

Lisiswanti, Rika, and Dea Nur Aulia Dananda. 2016. “Upaya Pencegahan Hipertensi.” Jurnal Majority 5(No 3, September):50–54.

Rsup, D. I., Wahidin Sudirohusodo, Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Bagian Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, and Alamat Korespondensi. n.d. “AN ANALYSIS OF HIPERTENTION PREVENTION MODELS IN Muhammad Azwar Universitas Hasanuddin.”

Sesrianty, Vera, Endra Amalia, Lisa Fradisa, and Muhammad Arif. 2020. “Pemberian Edukasi Tentang Pencegahan Hipertensi Di Posyandu Lansia Cendrawasih Bukittinggi.” Jurnal Abdimas Kesehatan Perintis 1(2):50–54.


Link jurnal

1. ANALISIS MODEL PENCEGAHAN PENYAKIT HIPERTENSI DI RSUP. DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

 2. Upaya Pengendalian Hipertensi Melalui Pendidikan Dan Pemeriksaan Kesehatan Warga Masyarakat

 3. Pemberian Edukasi Tentang Pencegahan Hipertensi Di Posyandu Lansia Cendrawasih Bukittinggi

4. Upaya Pencegahan Hipertensi

5. Edukasi Upaya Pencegahan Hipertensi pada Masyarakat di Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow

Komentar